Hello there, it’s been a while, eh? Let me fill you in a little bit.

Setelah selesai mengajar 1 tahun di Gerakan Indonesia Mengajar dengan segala dinamikanya, sekarang saya mencoba mencari cara untuk stabilizing hidup. Yup, now I work as a corporate employee di sebuah perusahaan swasta multinational di Jakarta di bidang consumer goods. And this is NOT the story about it.

Setelah mencoba menyesuaikan diri (atau menyerah?) dengan zaman, saya jadi memiliki sebuah pandangan baru terhadap segala kegiatan berbau sosial atau pun segala sesuatu yang ditujukan untuk kemaslahatan orang banyak. People tend to say it inspiring stuff or whatsoever. And this is where they were mistaken. Atau marilah kita bilang saya cenderung tidak sepakat dengan apa yang mereka bilang sebagai kegiatan menginspirasi.

Don’t get me wrong. Saya tidak under estimate terhadap semua yang orang-orang kerjakan. Bahkan saya yang pernah mencoba hidup di dunia seperti itu menjadi semakin salut dengan kegigihan orang-orang dalam memperjuangkan sesuatu di luar kehidupannya sendiri. It is tough indeed.

Bukan pula seiring bergesernya kesetimbangan kebutuhan saya yang membuat saya merasa perlu untuk menyuarakan hal ini. I still hate government as much as I did. Tapi sungguh, rasanya kita terlalu liberal dalam menggunakan kata inspirasi.

Ok, lets get it started. First of all, sepanjang pengetahuan saya so CMIIW, inspirasi adalah kata benda. Sama dengan meja, kursi dan perkakas rumah tangga lainnya. Oleh karena itu, menjadi sangatlah aneh ketika ada orang bilang sedang menginspirasi. Kita ga bakal bilang kita sedang mengmeja bukan? Absurd.

It’s a joke? Oke, anggaplah saya hanya membesar-besarkan kesalahan tata bahasa yang bisa jadi justru saya yang salah memahaminya. The thing is, saya menganggap kata inspirasi itu sesuatu yang besar. At the end of the day, dengan terlalu mudahnya orang menggunakan kata inspirasi, justru membuat kata inspirasi itu menjadi powerless. And pointless.

Analogi lain yang bisa saya gunakan adalah “sukses” . Kita tidak bisa bilang kita sedang/sudah sukses bukan? What we can do is strive into our thing. If it turns out to be successful, well, good for all human being then.

Saya ga bisa bilang karena saya sudah mengajar 1 tahun di pedalaman maka saya sudah menginspirasi. All I can say is, ya saya sudah pernah mengajar. If it turns out to be inspiring ya Alhamdulillah. Rasanya aneh kalau dengan sharing 2-3 post di twitter berseri dengan hashtag dan kemudian dia menyatakan dirinya sedang menginspirasi orang lain. All they can say is, saya sedang berbagi cerita. That’s it. Karena tidak ada jaminan jika hal yang mereka lakukan itu menginspirasi. Terlalu besar kepala rasanya.

Terlalu pongah jika mendengar orang berharap hal yang mereka lakukan akan menginspirasi. Just give your best shot. If it turns out to be inspiring, Alhamdulillah. Do not use that word too easily when all you have done is blabbing your stuff. Let people judge.

After all, kalimat “he is inspiring” dari penilaian orang lain terdengar lebih mulia ketimbang seseorang menyatakan diri bahwa “I am inspiring”, bukan?

Btw, Jakarta is sucks. It can be cruel sometimes. My working hour is sucks. But when you have a great coffee in your hand and you see the most beautiful living thing on earth… You know all is well 🙂

Well, hello. Im home already. Yup, setelah 1 tahun berjuang di Majene (Sulawesi Barat), akhirnya tugas saya berakhir. Pertanyaan yang sering muncul sepulang dari penempatan adalah “sekarang dimana jan?” atau “udah keterima dimana jan?” atau “wah, alumni IM mah pasti banjir tawaran ya?”. Guys, saya ini nyari kerja, bukan nyari tempe. Mau lulusan IM, lulusan luar negeri, lulusan tanah abang, atau mana juga namanya nyari kerja ga segampang itu gan. Pertanyaan yang harusnya diajukan sekarang adalah “abis 1 tahun ngajar, terus?”

Ya, setelah ngajar 1 tahun apa? Terus gimana? Apalagi? Pertanyaan ini cukup mengganggu pikiran saya beberapa minggu setelah penempatan. Sampai akhirnya datang tawaran dari pendiri Edutech Consultant. Beliau menawarkan saya untuk memimpin proyek peningkatan penerima beasiswa bidikmisi. Nah, ini dia.  Jadi ceritanya gini, beasiswa bidikmisi ini merupakan beasiswa yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sekarang) yang ditujukan untuk siswa yang tidak mampu. Program ini pertama kali dikeluarkan tahun 2010. Kuotanya cukup besar, dan sampai sekarang penerimaan beasiswa ini belum optimal. Masih banyak kuota yang belum termanfaatkan.

Tahun lalu, semasa penempatan, saya dan teman-teman Pengajar Muda melakukan sosialisasi mengenai keberadaan beasiswa ini. Hasilnya adalah 1 orang siswa masuk ITB, 1 orang siswa masuk UGM, dan 2 orang siswa masuk Unibraw. Ini jasa saya? Ya berlebihan jika saya katakan bahwa mereka bisa kuliah gara-gara saya. Hanya saja ini menunjukkan bahwa mereka bisa. Mereka sebenarnya memiliki kemampuan untuk bisa diterima di kursi perguruan tinggi yang ternama di Indonesia.

Kata kuncinya adalah informasi. Teman-teman siswa SMA di daerah tidak tahu keberadaan beasiswa ini. Apalagi beasiswa yang lain? Sekolah juga tidak tahu. Dinas Pendidikan setempat tahu, tapi kinerjanya untuk menggenjot penerimaan siswa ini belum optimal. Belum lagi jika kita membicarakan teknis pendaftaran dan alur yang ngejelimet yang sama rumitnya sama flowchart pembuatan roket dan sedikit di bawah tingkat kerumitan cerita romansa Anang Hermansyah.

Syarat mendapatkan beasiswa ini lets say Pintar dan Miskin. 2 kombinasi yang sulit ditemukan. Tambahkan variabel “tahu dan mengerti keberadaan program beasiswa ini” dan jumlah siswa yang bisa mendapatkan beasiswa ini akan semakin berkurang. Kenapa sedikit sekali yang bisa memenuhi persyaratan ini ya? Well, jaman sekarang Kaya itu prekuel dari pintar. Punya uang bisa beli makanan bernutrisi, bisa mendapatkan pendidikan yang baik, jadilah orang pintar. Apakah melulu karena mereka tidak mampu maka mereka jadi tidak pintar? Ya enggak lah.

Bayangkan sekarang anda jadi orang dengan kekuatan ekonomi yang sangat kuat. Tapi anda tinggal di pedalaman hutan di Indonesia. Karena 1 dan lain hal, sampai tingkat SMA anda terpaksa sekolah di SMA setempat yang diajar oleh guru yang lulus S1 dengan sertifikat palsu, jadi PNS dengan cara nyogok, masuk kelas 20 menit terlambat tapi bagian pulang rajiiiin bener ampe 20 menit belum abis udah pulang. Kira-kira memungkinkan ga anda keterima di Perguruan Tinggi yang ternama di Indonesia? Jadi masalah utamanya bukan ketidakmampuan siswa, tidak melulu juga karena tidak mampu.

Prestasi akademik, kekuatan finansial, dan akses terhadap informasi merupakan kunci dari keberhasilan seseorang mendapatkan kursi di perguruan tinggi. Untuk masalah finansial, saya tidak bisa berbuat banyak. Untuk itulah adanya beasiswa bidik misi ini. Untuk orang dari kalangan tidak mampu. Buat anda yang merasa mampu tapi mendapatkan beasiswa ini, lebih baik anda lepaskan sekarang juga. Ga halal gan, daripada nambah-nambah dosa.

2 syarat lain yang ingin kami di Edutech ini selesaikan.  Prestasi akademik yang kurang baik, bisa jadi disebabkan oleh sistem yang kurang mendukung. Karena itu, kami akan memberikan fasilitas bimbingan belajar bagi teman-teman yang kami rasa memiliki potensi akademik yang bagus. Potensi ya, bukan kemampuan. Jika kami sudah mendeteksi teman-teman yang memiliki potensi lebih, kami yakin dengan sedikit bantuan bimbingan belajar (yang standar kualitasnya standar kota) maka impian mendapatkan kursi di perguruan tinggi sudah tidak terlalu sulit digapai.

1 syarat lain adalah akses dan pemahaman siswa terhadap informasi beasiswa ini. Penting bagi kita menyebarkan informasi ini seluas-luasnya. Buat siswa, buat sekolah, buat dinas pendidikan, buat siapa aja deh. Sebarluaskan informasinya. Pastikan semua orang tahu. Pastikan semua calon siswa memiliki akses informasi yang sama. Jangan nunggu Menteri, jangan nunggu Dinas Pendidikan, jangan nunggu yayasan-yayasan yang bergerak di dunia pendidikan, yuk kita semua aja yang gerak. Kita semua masing sebarkan informasi tentang beasiswa ini ke SMA kita dulu. Ke SMA yang deket rumah. Ke SMA di kota kita. Baru dari sana kemana-mana, sejauh tangan kita bisa menggapainya.

p.s. cerita tentang minggu-minggu terakhir saya di daerah akan menyusul di blog berikutnya ya, wait up! Informasi tentang bidik misi: http://www.bidikmisi.dikti.go.id

http://www.dikti.go.id

http://www.edutech.co.id

http://www.snmptn.ac.id

TIME OR PLACE?

Posted: Juli 24, 2011 in Uncategorized

Pertama-tama terimakasih untuk murid-murid saya yang baru naik kelas 4. Kecerdasan, kedinamisan, dan variasi karakter kalian benar-benar mengingatkan saya kembali kenapa saya ada disini.

Oke, lets roll!!!!

Banyak orang memiliki definisi masing-masing terhadap waktu. Ada yang bahkan memperhitungkannya sebagai dimensi ke-4 (yeah right, and you must haven’t dating for years). Saya sendiri termasuk yang memiliki ketertarikan terhadap waktu. I really hope someday we’ll have a time machine. Tapi jangan berharap tulisan ini akan membahas waktu dengan perspektifnya dalam fisika kuantum, atom, nuklir, pohon jambu, gunung, atau benjolan di ketiak. Kita ngobrol pake nalar bego-begoan aja ya, jadi percayalah tidak ada satupun kata-kata di bawah ini yang telah dikaji secara scientific.

Pernah ga jalan-jalan kemana gitu, terus pas nyampe kehujanan? Itu kehujanannya gara-gara perpindahan tempat atau perpindahan waktu? Yup, ini pertanyaan bodoh yang akan membawa kita ke diskusi selanjutnya.

Saya sering merasa skeptic bahkan sinis terhadap orang-orang yang mengagungkan perubahan. Bukannya saya orang yang tidak suka perubahan, hanya saya sering menganggap apa yang orang=orang terjemahkan sebagai perubahan sebenarnya hanya sebatas, apa ya? Lets say it pertumbuhan. Jika hanya tumbuh ya whats so good about it? Million people are growing every damn second.

Saya ingat beberapa bulan lalu diskusi dengan seorang teman lama di sebuah restoran cepat saji di Bandung. This discussion went for hours dan beberapa bahkan tidak layak untuk dibicarakan disini, tetapi ujungnya adalah kami percaya bahwa perubahan yang masih berbanding lurus dengan waktu sebetulnya hanya berada dalam posisi ekuilibrium yang secara teknis sebetulnya tidak berubah. Perubahan yang masih berbanding lurus dengan waktu technically tidak mengalami perubahan. Akhirnya terminology perubahan menjadi terlalu megah terhadap apa yang orang-orang definisikan sebagai perubahan. Konsep perubahan yang ideal adalah sesuatu yang terakselerasi sedemikian rupa sehingga kurva waktu pun tidak mampu mengikuti. Atau sesuatu yang sedemikian dinamis hingga akhirnya tidak bisa mencapai titik kesetimbangan.

Menarik jika kita coba membawanya ke dalam sesuatu yang lebih kontekstual.

Saya mendapat banyak teman baru sesama pengajar muda. Jika saya tidak mengikuti gerakan ini, apakah somehow saya tetap akan mengenal mereka?

Fernando Torres hanya berhasil mencetak 1 gol dalam setengah musim di Chelsea (mampus!!!! And you Russian rich bastard paid us 50million pounds, thank you and suck that loser!!!!!). Kemandulannya ini apakah diakibatkan oleh kepindahannya, atau memang sudah waktunya bagi Torres untuk mandul?

Seorang anak yang sakit-sakitan, dirubah namanya akhirnya menjadi sehat. Apakah karena perubahan namanya, atau memang waktu yang menyembuhkannya?

Saya merasa cara saya mengajar lebih optimal semester ini. Apakha karena perubahan murid, atau waktu yang telah mengajari saya?

Murid-murid alumni SD tempat saya mengajar tampak jauh lebih dewasa saat ini. Apakah saya berperan dalam perubahan ini, atau memang waktu telah mendewasakannya?

Saya merasa saya mengalami beberapa perubahan sejak berada disini. Apakah karena pengaruh tempat tinggal dan pekerjaan, ataukah waktu yang telah “mengubah” saya? Jika demikian, apakah sebenarnya saya tidak berubah sama sekali?

Bersihin dulu unek-unek dikit. Udah 8bulan, we almost there. Wait, really?? Terus ntar ngapain pas pulang? Back to real life? Saya tidak meninggalkan apa pun di Bandung kecuali masalah.

Oke, mari kita mulai. Setelah liburan yang teramat panjang dan menyenangkan dan menyedot habis keuangan, saya kembali ke kehidupan saya di sebuah dusun di pegunungan Kabupaten Majene. Hehehe, judul di atas muncul dari hasil diskusi dengan beberapa teman pengajar muda saat liburan ini. Banyak dari kami ditempatkan di daerah yang memang benar-benar menganggap kehadiran kami setara dengan kedatangan hmmm,kedatangan sesuatu, kedatangan apa ya? I’ll get to that later. Pokoknya seseorang yang luar biasa hebat dengan kapabilitas yang bisa mengubah keadaan sekolah sendirian.

Well, awalnya ini terasa menjadi beban. Saya sendiri di awal kedatangan coba tidak menonjolkan diri untuk menjaga ekspektasi dari pihak sekolah. Lama-kelamaan ekspektasi yang tidak berkurang justru saya manfaatkan untuk menyusupkan misi saya disini. Hahahaha, lebay. Intinya begini, sekolah sudah sungguh percaya dan yakin dengan kemampuan kami. Ditambah kehadiran kami yang paling tinggi di sekolah ketimbang guru-guru lain, maka kami kerap kali memiliki kekuasaan untuk melakukan apa pun di sekolah. Yup, technically we really are ruling the school. Sekolah yang sering ditinggal guru-gurunya, kepercayaan tinggi dari orang tua siswa, serta antusiasme murid saat diajar oleh kami membuat memang para pengajar muda bisa “menguasai” sekolah.

Kami bisa mengatur jadwal pelajaran, waktu bagi rapot, jam mengajar, dll. (sayang, dana BOS belum bisa euy). Untuk itulah saya punya usul untuk mengubah tagline Indonesia Mengajar dari setahun mengajar seumur hidup menginspirasi menjadi “Indonesia Mengajar, We Rule The School!!!” hahahahahahaha

Usul kedua yang agak beneran adalah memindahkan atau menambahkan daerah kerja Pengajar Muda menjadi guru SMA. Bagi anda penganut mazhab pendidikan Freire, tentu sudah paham betul konsep pendidikan klasik yang hanya mengubah kaum tertindas menjadi kaum penindas tanpa mengekskalasi perubahan sistem sosial secara keseluruhan. Bisa saja mereka menjadi lebih mapan secara finansial, tetapi hakikatnya mereka hanya berubah status dari tertindas menjadi penindas yang melanggengkan terus penindasan terjadi di dunia pendidikan.

Teorinya begitu. Jika ada yang tertarik untuk mempelajarinya secara lebih lanjut, datanglah kemari. Disinilah siklus ini benar-benar terjadi. Entah bagaimana awalnya, tetapi murid memang hanya bisa menggambarkan dirinya menjadi guru di masa depan. Setelah jadi guru muridnya akan menjadi guru. Setelah muridnya menjadi guru, muridnya bercita-cita jadi guru. Setelah muridnya menjadi guru, muridnya bercita-cita jadi guru. Dan begitulah siklus ini terus berlanjut.

Memang jika kita bicara tentang siklus ini absurd jika kita harus membahas parameter perubahan struktur sosial secara keseluruhan. Saya hanya akan memberikan gambaran, bahwa saya sungguh yakin jika tidak ada perubahan berarti, maka 50 tahun ke depan kondisi sosial ini tidak akan berubah sama sekali. Cukup menyedihkan memang, setelah 8bulan disini belum nyata pendobrakan konstruk sosial yang saya coba lakukan, akan tetapi saya hanya meyakini memang kondisi ini harus secepatnya diberikan perbaikan.

Solusi perbaikan bisa jadi adalah mendidik anak SD dengan harapan mereka akan terbangun karakternya bla bla bla bla. Tapi dengan kondisi masih seperti ini, sungguh sangat disayangkan karena ketika sudah lulus, mereka harus kembali masuk sistem SMP-SMA yang akan membuat usaha para pengajar muda (almost) back to square one. Sementara mengirimkan mereka ke luar kota pun bukan pilihan karena kehadiran mereka dibutuhkan oleh keluarganya masing-masing,

Solusi lain adalah dengan menyasar langsung siswa SMA. Memang, perubahan bagi siswa bisa jadi tidak terlalu optimal, karena mereka sudah “jadi”. Tetapi dengan mendidik anak SMA, kita bisa mengarahkan peserta didik untuk lebih berperan di masyarakat. Bisa jadi dengan melakukan apa pun kegiatan sosial untuk membangkitkan semangat warga desa, atau pun dengan lanjut ke bangku kuliah. Disinilah peran Pengajar Muda nantinya. Mengarahkan para siswa SMA tersebut untuk terus melanjutkan kuliahnya, dengan gambaran yang lebih riil tentang bagaimana seharusanya sebuah daerah dibangun. Guru dan petani adalah pekerjaan yang sungguh mulia, tetapi tidak mungkin sebuah kota bisa melesat pembangunannya jika seluruh warganya terkonsentrasikan di 2 bidang pekerjaan tersebut.

Saya bahkan membayangkan bahwa pengajar muda ini nantinya bisa membuat sebuah dream team dari siswanya. Ada yang muridnya menjadi akuntan, pengacara, insinyur, pedagang, dll, karena secara kualitas mereka banyak kok yang mampu. Buktinya Kabupaten Majene sudah bisa menghasilkan siswa yang masuk perguruan tinggi terbaik di Indonesia (ITB, iya ITB yang itu, yang terbaik itu hehehe…).

Saya mencoba eksperimen ini di kampung tempat penempatan saya. Dari 3 lulusan SMA di dusun ini, berdasarkan minat dan gambaran sederhana tentang potensinya, yang satu saya dorong menjadi TNI, yang satu untuk berkuliah di bidang hukum, yang satu lagi di bidang pendidikan. Hasilnya, yang seleksi TNI memilih daftar ke AKPOL tapi gagal karena dimintain duit 40juta cuman buat daftar seleksi (True Story. Gosh, u bastards really like that damn money, huh?), yang di bidang pendidikan memilih merantau ke Kalimantan cari uang, tinggal satu yang masih teguh niatnya. Tesnya akan dilaksanakan pertengahan Juli ini. Saya memberikan gambaran bahwa sebagai Provinsi baru, Sulawesi Barat pasti membutuhkan banyak perangkat hukum yang mudah-mudahan bisa menjadi lapangan kerja yang menarik bagi dia nantinya.

Ya balik lagi ke ide mengajar SMA tadi. Harapan saya, murid-murid cetakan Indonesia Mengajar bisa menembus perguruan-perguruan tinggi terbaik di Indonesia nantinya. Lalu setelah beberapa tahun kuliah (boleh 4 atau 5 taun lah) mereka inilah yang diharapkan bisa menjadi pilar-pilar utama pembangunan daerah. Selain itu, karena hasil kuliah masih bisa dilihat dalam kurun waktu sekitar 5tahun, bukankah akan menjadi lebih mudah untuk menentukan parameter keberhasilan gerakan ini? Lihat saja berapa banyak siswa yang lanjut kuliah? Kuliah dimana aja? berapa banyak yang lulus? berapa banyak yang kembali setelah lulus? dan berapa banyak lulusan perguruan tinggi ini yang langsung mengabdi dan berbuat sesuatu bagi daerahnya?

Yeah, just my opinion. Really like to hear yours, fellas…. Bubble out!!!!

DREAM JOB

Posted: Juni 28, 2011 in Uncategorized

Top 5 lagu yang jika diputar lagi 5-10 tahun ke depan akan mengingatkan saya pada masa penempatan saya di Majene :

  1. OST Gie
  2. Adhitya Sofyan – Adelaide Sky
  3. Avenged Sevenfold – Seize The Day
  4. Eminem – Not Afraid
  5. David Cook – Lights On

Ya, memang selera lagu saya sangat terbatas, tapi 5 lagu inilah yang kira-kira akan selalu mengingatkan saya pada masa pengajaran saya di Majene ini. Lagu ini menyingkirkan lagu-lagu lain seperti pagiku-cerahku-matahari-bersinar-yang-judulnya-sering-dikasih-tau-teman2-dan-saya-terus2an-lupa, desember nya efek rumah kaca, sama fix you nya Coldplay.

Saya juga sudah memanfaatkan gantungan buku untuk merapikan semua buku bacaan yang saya punya di rumah untuk anak-anak. Kami menamakannya “Reading Corner”. Ternyata pengaturan ini selain mempermudah proses merapikan kamar, juga membuat anak-anak lebih tertarik untuk membaca buku. Tampilan yang lebih menarik, keterlibatan dari awal pemasangan, membuat keterikatan mereka dengan reading corner ini menjadi lebih tinggi. 3 claps!!!

Cerita selanjutnya mengenai cita-cita. Cita-cita saya adalah menjadi orang yang paling bertanggung jawab telah membawa PERSIB juara liga Indonesia, bisa jadi manager nya, pelatihnya, walikota nya, apa aja lah, pokoknya saya ingin meninggal dalam kenangan membawa PERSIB juara. Lebih bagus kalau saya bisa menjadi pengacara dalam keberjalanannya. Berikut adalah Top 5 dream job buat murid-murid di tempat saya mengajar :

  1. Guru
  2. Bidan
  3. Artis
  4. Kepala Desa
  5. Polisi (hutan)

Saya bukannya mengatakan bahwa ini bukan pekerjaan yang layak, bahkan fakta bahwa pekerjaan ini yang dijadikan cita-cita anak-anak menunjukkan bahwa pekerjaan inilah tulang punggung pembangunan sebuah desa (Really?), saya bahkan secara sadar menjalani salah satunya (Really?????????). Masalahnya adalah, ini bukan TOP 5, cause there’s no number 6 or 7 in it. Lebih cocok disebut sebagai THE ONLY 5 available job. Buat orang disini that is how as well as life could be.

“pelajaran” mengenai cita-cita ini berulang kali saya coba sampaikan. Tapi karena mereka memang tidak pernah melihat atau mendengar atau merasakan fungsi dari pekerjaan lain (kasian deh, pekerjaan kalian ga ditau anak-anak disini), maka inilah harapan hidup terbaik bagi mereka. sekolah sampai selesai kuliah, dan berharap jaringan yang kuat dengan pemerintahan, dan menunggu sampai pengangkatan berikutnya. Saya sudah berbusa-busa menerangkan tentang pekerjaan lain, tapi karena memang tidak ada yang bisa dilihat langsung, konsep cita-cita ini menjadi absurd. Bahkan mereka lebih bisa memahami “Indonesia Mengajar” sebagai pekerjaan ketimbang astronot atau insinyur.

Cerita di balik “Indonesia Mengajar” sebagai pekerjaan :

Saya sempat ditanya apa yang membuat saya mengikuti program ini. Saya selalu menjawabnya dengan beragam variasi jawaban tergantung siapa penanyanya. Mungkin tidak banyak yang percaya kalau dibalik sikap sinis dan menyebalkan ini saya merupakan jenis makhluk yang sangat cinta negara. Akhirnya ketika untuk ke sekian kalinya ada anak yang bertanya kenapa saya mengikuti gerakan ini saya coba menjawab karena saya cinta negara ini dan hal-hal patriotis, inspiratif nan membanggakan serta mengharu birukan nusantara. Di luar dugaan justru jawaban semacam inilah yang membuat makin banyak bermunculan murid yang berani menentang arus dengan memiliki cita-cita sebagai “Indonesia Mengajar” hahahaha…..

Yup, for the country we both love so much kids.

For the country we both love so much……

HELLO, WORLD!!

Posted: Juni 11, 2011 in Uncategorized

Judulnya terasa familiar? Ya, bagi anda yang pernah membuat blog judul inilah yang akan menjadi postingan pertama anda. Judul ini juga menjadi judul bagi postingan pertama saya setelah berbulan-bulan.

So many things happened. Oke, kita mulai dari kejadian beberapa minggu lalu, my mom was coming to town!hahahaha… ya, kedua orang tua saya came all the way to here out of nowhere. (shit, where the hell I am?) mereka judulnya sih nengok, sempet main ke sekolah, dan lain-lain selayaknya kunjungan orang tua lah, kopi-makanan-and stuff. Tapi point utamanya adalah setelah melihat kondisi disini they said they proud of me. Me, its me whose they’re proud of. See, ada beberapa pihak yang bilang “Indonesia Mengajar proyek mercusuar yang menghabiskan banyak uang untuk kepentingan segelintir pihak elit” im not gonna say it was wrong, but hey I make my parents proud of me! Jadi, para kritikus, berapa seringkah anda membuat orang tua anda bangga???

Kejadian di kampung mulai aneh-aneh. Jadi ada suatu malam ada seorang ibu-ibu mencoba bunuh diri dengan membenturkan kepalanya berkali-kali ke batu. Ibu bidan yang kisah romansanya lebih rumit daripada Lady Diana kebetulan tidak ada di tempat sejak kisah romansanya yang lebih rumit daripada Lady Diana diekspose ke publik. Bahkan sampai ada semacam tim investigasinya gitu lah. True story.

Eh, where were we? Haduh, ke distract sama kisah sang bidan. Oke, karena ibu bidan tidak ada di tempat, kepada siapakah mereka meminta bantuan? Yup, the one and truly yours : me. Jadi saya untuk pertama kalinya harus memasang perban pada kepala yang darahnya cukup dipakai cadangan shooting film Saving Private Ryan. Setelah pasang perban, saya dipanggil orang di sebelah rumah pasien ini gara-gara kakeknya sakit perut, lalu saya berilah obat sakit perut.

Garing ya?tunggu puncak ceritanya. Setelah dari rumah sang kakek saya pulang. Di tengah jamuan kopi kental dan hangat saya dipanggil bapak dusun dengan tergesa-gesa. Dia bilang “pak guru, istri saya melahirkan, bisa bantuin?” jedaaaannggg…. Emang aing dukun beranak??? Liat darah tadi aja masih trauma ini lagi disuruh bantuin ngelahirin. Mesti ngapain coba?ilmu melahirkan terbaik yang pernah saya dapatkan cuman kelas kedokteran di beberapa episode E.R. Saya tahu tentang meniup-niup dan “dorong bu, sedikit lagi” tapi kayaknya ga cukup oke buat jadi jalan seorang manusia datang ke bumi. Jadi dengan berat hati dan penuh penyesalan (hell, I didn’t regret it at all) saya menolak tawaran menyenangkan ini dan menyarankannya memanggil bidan di desa sebelah.

Pointnya adalah, selain membuat orang tua saya bangga, saya juga benar-benar merasa dibutuhkan disini. Saya benar-benar merasa bisa membantu orang lain disini. Jadi, para kritikus, berapa seringkah anda dibutuhkan oleh orang di tempat tinggal anda???

Memang setiap orang punya standar tersendiri. Bagi beberapa orang, dia dilahirkan di dunia memang untuk mengkritik apa pun selama dia tidak ada di dalamnya. Saya tidak akan menyalahkan perannya. Bahkan saya pun kerap kali melakukannya. Jadi jika anda memang mengkritik program ini, silahkan gali fakta sedalam-dalamnya. Jika asumsi anda betul bahwa ini merupakan program politis, pastikan saya menjadi orang pertama yang tahu dan saya tetap tidak akan peduli.

Beberapa orang sering bertanya, apakah saya tidak capek terus-terusan mencari kesalahan orang lain dan menyampaikan hal dengan cara paling sinis yang bisa dilakukan? Well, capek sih tidak, tapi tentu saya tidak ingin end up dengan orang seperti saya. Ambilah saya sebagai contoh. Jika saya dilamar oleh saya, tentu akan saya tolak mentah-mentah. Saya tidak ingin memiliki rumah tangga yang penuh kemurungan, saling lontar ejekan dan depresi. Not to mention saya itu laki-laki. Bahkan kalau pun saya perempuan. Ngomong apa sih? Pokoknya im enjoying this me. But do u really think I’d like to end up with someone like me and have a Taliban-way depression life and have a baby girl named misery?

HAL KECIL YANG MEMBESAR

Posted: Mei 13, 2011 in Uncategorized

Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Semuanya adalah rangkaian dari hal-hal kecil yang terjadi sebelumnya. Bahkan tidak ada hal-hal yang benar-benar besar. Semuanya merupakan kombinasi dari hal-hal kecil yang terjadi di masa lalu.

Betapa pengaruh hal-hal yang terjadi di masa kecil kita memiliki pengaruh besar dan mengubah jalan hidup kita secara keseluruhan. Saya memiliki 2 contoh kecil dalam hidup saya. Yang pertama adalah hal traumatic dimana saya pernah ditakut-takuti oleh anjing yang menyebabkan saya dan anjing tidak pernah bisa berteman, dan saya yang sejak kecil sudah diperkenalkan dengan sepakbola sehingga sekarang saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menggeluti sepakbola.

Saya betul-betul ingat di bulan ramadhan saat saya masih mungkin usia kelas 2-3 SD. Di saat makan sahur pun saya sudah memisahkan diri dari keluarga (yang juga menjadi kebiasaan saat sahur-sahur di tahun-tahun berikutnya) untuk menonton pertandingan liga champion. Atau saya yang sering bolos mengaji (saya tahu betul kebiasaan ini juga berulang) untuk mendengarkan siaran radio pertandingan persib. Betapa hal-hal kecil bisa mempengaruhi jalan hidup kita secara keseluruhan. Contoh di atas hanyalah contoh kecil. Saya bisa memberikan contoh yang jauh lebih besar, jauh lebih signifikan, dan jauh lebih menjijikan.

Ujian nasional yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia benar-benar sudah keterlaluan. Kecurangan yang terjadi akan mengajarkan anak untuk terus berbuat curang di kemudian hari. Belum lagi ditambah tekanan mental yang harus diterima siswa.

Sudah banyak cerita tentang korban tekanan ujian nasional bukan? Selama ini saya hanya membacanya di koran, tapi sekarang saya bisa melihat kerusakan yang dihasilkan ujian nasional ini dengan mata saya sendiri secara langsung. Saya pernah menceritakan kisah anak yang akhirnya menjadi “sakit” karena ujian nasional kan? Anak ini kondisinya semakin parah dengan berlalunya hari. Dia harus kehilangan kewarasannya. Beberapa bahkan kehilangan nyawa karena tidak sanggup menghadapi tekanan ujian nasional.

Ujian nasional harus dihentikan. Jangan lagi menggunakan dalih “yang salah pelaksanaannya, bukan filosofi ujian nasionalnya” jika anda belum bisa menemukan solusi untuk memperbaiki pelaksanaannya secara keseluruhan. Hentikan dulu pelaksanaannya, jika solusi untuk melaksanakannya dengan baik sudah ditemukan baru kita ulang lagi. Dengan berantakannya pelaksanaan ujian, serta kecurangan yang terjadi yang bisa menyebabkan anak-anak kehilangan kejujuran saja ujian nasional sudah memiliki lebih dari cukup alasan untuk dihentikan.

Sekarang saya sedang menatap seorang pemuda yang masa depannya terenggut karena tekanan ujian nasional. Dia kehilangan kewarasan. Dia kehilangan masa depan. Beberapa bahkan kehilangan NYAWA!!! Sampai berapa banyak korban kalian akan meneruskan ujian bodoh ini, bangsat??

Di depan pasungan anak ini, dengan segala kekotoran tempat di sekitarnya, dengan kegelapan di masa depannya, dengan penderitaan yang ditimpakan pada orang tuanya, sulit untuk terus menerus berharap bisa menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Kegelapan ini bahkan tidak cukup terhukum dengan hanya dikutuk. Perasaan yang muncul adalah prihatin, sedih, dan sebagainya. Tetapi setelah itu saya tidak bisa merasakan hal lain selain kebencian bagi para pencetus dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dan begitu keras kepalanya untuk terus melaksanakan ujian nasional.

Sekarang, penghentian ujian nasional saja tidak cukup. Saya bersumpah akan membalas.